Skip to main content

HUT RI 74 Mengenang Pahlawan Kemerdekaan




 Di tanah Jawa ini, yang paling ditakuti penjajah Belanda adalah santri dan tarekat

Ada seorang santri yang juga penganut tarekat, namanya Abdul Hamid.

Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta._ 

Mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH Hasan Besari

Abdul Hamid ngaji kitab kuning kepada Kyai Taftazani Kertosari

 Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH Baidlowi Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta. 

Terakhir Abdul Hamid ngaji  ilmu hikmah kepada KH Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang.

Abdul Hamid sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama lima tahun, 1825-1830. 

Abdul Hamid wafat dan dikebumikan di Makassar dekat Pantai Losari. 

Abdul Hamid adalah Putra Sultan Hamengkubuwono ke-III dari istri Pacitan, Jawa Timur. 

Abdul Hamid patungnya memakai jubah dipasang di Alun-alun kota Magelang.

 Menjadi nama di Kodam Jawa Tengah.

 Terkenal dengan nama: Pangeran Diponegoro.

Belanda resah menghadapi perang Diponegoro.

Dalam kurun lima tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri.

Nama aslinya Abdul Hamid.
Nama populernya Diponegoro

Adapun nama lengkapnya adalah Kyai Haji Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong

Tidak hanya Diponegoro, anak bangsa yang didik para ulama menjadi tokoh bangsa. 

Diantaranya, di Yogjakarta ada seorang ulama bernama Romo K Sulaiman Zainudin di Kalasan Prambanan.

 Punya santri banyak, salah satunya bernama Suwardi Suryaningrat.

 Suwardi Suryaningrat ini kemudian oleh pemerintah diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional yang terkenal dengan nama *Ki Hajar Dewantara.*

 Jadi, Ki Hajar Dewantara itu santri, ngaji, murid seorang ulama besar.

 Sayangnya, sejarah Ki Hajar mengaji al-Quran tidak pernah diterangkan di sekolah-sekolah, yang diterangkan hanya  Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.
Itu sudah baik, namun belum komplit. 
Belum utuh.

 Maka nantinya, untuk rekan-rekan guru, mohon diterangkan bahwa Ki Hajar Dewantara selain punya ajaran Tut Wuri Handayani, juga punya ajaran al-Quran al-Karim.

Perlu diketahui bahwa ketika Indonesia merdeka, ada sayyid warga _Kauman Semarang_ yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur. 

Sang Sayyid tersebut menyusun lagu syukur. 

Dalam pelajaran Sekolah Dasar disebutkan H Muthahar.

H Mutahar Itu bukan Haji Muthahar namun Habib Husein Muthahar yang menciptakan lagu syukur.
 Beliau adalah Pak Dhenya Habib Umar Mutohar SH Semarang. 

Jadi, yang menciptakan lagu syukur yang kita semua hafal adalah seorang  sayyid cucu baginda Nabi. 

Mari kita nyanyikan bersama-sama.

Dari yakinku tegu
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniamu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
Kehadiratmu tuhan
 
Itu yang menyusun cucu nabi, *Sayyid Husein Muthahar,* warga kauman Semarang. 

Akhirnya oleh pemerintah waktu itu diangkat menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga.
 
Terakhir oleh pemerintah dipercaya menjadi Duta Besar di Vatikan, negara yang berpenduduk Katholik

 Di Vatikan Habib Husein tidak larut dengan kondisi, malah justeru membangun masjid 

Habib Husein Muthahar menyusun lagu yang hampir se-Indonesia hafal semua. 

Suatu ketika Habib Husein Muthahar sedang duduk, lalu mendengar adzan shalat dzuhur.

 Sampai pada kalimat hayya alas shalâh terngiang suara adzan.

 Sampai sehabis shalat berjamaah, masih juga terngiang.
 Akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan, ada “S” nya, “A” nya, “H” nya.

Kemudian pena berjalan, tertulislah:

17 Agustus tahun 45
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan
Kita tetap setia tetap setua
Mempertahankan indonesia
Kita tetap setia tetap setia
Membela negara kita

Maka peran para ulama, kyai dan para sayyid tidak sedikit dalam pembinaan patriotisme bangsa. 

Malahan, Bung Karno, ketika mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur Jakarta, minta didampingi putra ulama atau kyai.

 Tampillah seorang dari kampung Batu Ampar, Maya Kumbung, Sumatera Barat. 
Siapa beliau?
H. Mohammad Hatta.
 Beliau putra ulama.

 Bung Hatta adalah putra Ustadz Kyai Haji Jamil, Guru Thoriqoh Naqsyabandiyyah Kholidiyyah.

Akhirnya, Bung Hatta menjadi wakil presiden pertama.

Sayang, sejarah Bung Hatta adalah putra ulama dan putra penganut thoriqoh tidak pernah dijelaskan di sekolah, yang diterangkan hanya Bapak Koperasi...

Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh.
Jangan sekali-kali memotong sejarah.

Comments

Popular posts from this blog

Taxi Kudus - Puri Kencana Taksi

Jasa Transportasi - Kami melayani jasa antar jemput ke semua tujuan anda dengan nyaman dan aman serta manusiawi, baik dalam kota maupun luar kota.

Office  : Ruko Pusat Kuliner Sempalan Indah No. 9 Jati Kulon Kudus
Call order 081 390 127 512
 Dapatkan aplikasinya Taksi Kudus online hanya disini

Cerita Indah Di Taksi Kudus

Taksi Kudus - Sebagai wanita karir saya termasuk suka menggunakan jasa layanan taksi ,selain bisa cepet dan berprivacy juga bisa dijadikan sebagai gaya hidup ,maklum sekarang gaya hidup kadang jadi perjuangan sebagian orang dan mungkin saya.

Cerita ini berawal dari naik taksi ke Semarang dan mungkin karena agak lama kadang mata ini sering melihat ke dalam kabin taksi dan tak senagaja menemukan nomor hp seseorang yang sepertinya ditulis di selembar kertas, dan entah siapa .

Lama tak kepikiran untuk coba menghubungi dan ternyata seorang cowon, entah bagiamana tapi singkat cerita dia sekarang jadi pacar saya dan mungkin jika berjodoh kami akam menikah,

Taksi Kudus - Panggil Layanan Taksi Online Di Kudus

Panggil layanan taksi dengan respon super cepat dan dengan kendaraan yang muat banyak baik orang maupun barang, harga murah dan tidak argo kuda. Cukup mainkan jempol kamu dan ambil hp kamu di nomor 081 390 127 512
Kami siap melayani anda 24 jam